Oleh: Komaruddin Hidayat

Sambil makan siang, seorang teman bankir, sebut saja Agus Katon namanya, bercerita membandingkan ritme hidup dirinya dan orang tuanya yang berprofessi sebagai Guru di Malang. Dulu seorang guru di desa ritme hidupnya dijalani dengan damai dalam suasana penuh kehangatan dan keakraban dengan lingkungan sosialnya, muridnya, orangtua murid, dan dengan warga desanya. Tak ada sekat-sekat waktu dan tembok rumah sehingga mudah bertemu dan saling tegur sapa. Biasanya jam satu siang ayahnya sudah di rumah. Meskipun statusnya PNS (pegawai negeri sipil) namun sehabis kerja ayahnya masih bisa istirahat tidur siang atau menengok sawah ladangnya. Sedangkan malam harinya bisa mengajari anak-anaknya mengaji.

Bagi generasi anaknya yang berkarir di kota semacam Jakarta, ritme hidup demikian itu hanyalah kenangan belaka yang tidak bisa ditiru dan diulangi oleh dirinya dan generasi sebayanya. Mungkin peluang paling besar untuk berkumpul keluarga adalah hari lebaran idul fitri. Itupun waktunya terbatas karena ikatan kerja di kantornya. Ada pula yang mengajak orangtua di desa untuk tinggal di Jakarta. Tetapi, katanya, umumnya orang tua tidak betah tinggal di kota besar. Mereka merasa terasing di tengah keramaian. Pagi-pagi anak dan cucu sudah keluar rumah untuk ke kantor dan sekolah. Orangtua tidak tega melihat anaknya bekerja sibuk membanting tulang, pergi pagi pulang malam. Di samping kemacetan lalu lintas, banyak eksekutif muda yang kerja lembur atau sengaja pulang agak malam setelah jalanan tidak terlalu macet.

Coba saja amati ritme dan gaya hidup di rumah komplek. Tembok pagar komplek itu telah memisahkan dari lingkungan sekitar, suatu hal yang tidak terjadi di desa. Lalu setiap rumah di dalam komplek juga ada tembok pemisah dari tetangganya sehingga sulit untuk saling berhubungan. Di dalam satu keluarga pun untuk bisa berkumpul bareng masih sering terdapat hambatan. Mereka punya jadwal yang berbeda, dan ketika sampai rumah sudah lelah, masing-masing masuk kamar untuk mendapatkan "me time" di dalam "gua".

Lalu, kapan bisa kumpul santai bersama anggota keluarga secara utuh? Ada yang merasakan kehangatan ketika pagi-pagi sarapan bareng. Atau sekali-sekali makan malam. Saking tidak mudahnya kumpul layaknya generasi tua dulu sewaktu di kampung, makanya hari libur Sabtu dan Minggu sangat berharga bagi keluarga urban. Namun pada prakteknya, "family hours" itupun terampas oleh undangan menghadiri acara sosial, seperti pernikahan dan acara lain yang cukup urgen dihadiri. Belum lagi anak-anaknya juga memiliki kegiatan sendiri. Untunglah sekarang ini ada fasilitas gawai untuk telepon atau video call setiap saat sehingga di tengah kesibukan masing-masing masih bisa bertegur sapa. Namun begitu, kehangatan komunikasi langsung sesama anggota keluarga tetap tak tergantikan nilainya oleh teknologi gawai, secanggih apapun.

Cerita singkat di atas membuka mata dan mengingatkan kita semua bahwa antara orang tua yang tinggal dan beraktivitas di desa, berbeda dengan generasi anaknya yang menjadi sarjana, berkarir di kota memiliki gaya dan ritme kehidupan yang sangat berbeda. Relasi sosial yang terbangun di kota lebih bersifat fungsional-kontraktual karena hubungan kerja. Orang dengan mudah berganti komunitas dan identitas karena ganti jabatan dan pindah tempat kerja. Dengan demikian, ikatan tradisional mengendor, sementara yang baru pun sifatnya cair. Situasi ini mendorong orang bersikap egoistik-individualistik dan sibuk bermain di medsos. Peristiwa dan tempat yang membuat mereka berkumpul adalah tempat ibadah, peringatan hari-hari besar nasional, takziyah ketika ada tetangga meninggal, atau kerja bakti di komplek.